Cerpen Cinta – Cintaku Hidup Kembali

Sejenak darahku berhenti mengalir, jantungku berhenti berdetak, urat nadiku terasa kaku, pikiranku kosong, aku terjatuh lemas dan penglihatanku mulai gelap. Aku jatuh pingsan saat mendengar berita kalau Trian kekasihku meninggal dua jam yang lalu akibat kecelakaan semalam yang membuatnya koma beberapa jam.

Dengan perlahan aku membuka mataku dan melihat sekelilingku. Kudapati ada bunda dengan wajah khawatirnya, kakakku Kevin dan sahabatku, Karin. Kuteguk segelas air putih dari kakakku dan langsung pamit pada bunda.

Kutarik tangan Karin dan segera kukemudikan mobil biruku dengan kecepatan tinggi menuju rumah Trian. Tak kudengar ocehan Karin yang terdengar takut. Cukup lima belas menit aku telah sampai dirumah tante Irma, mami Trian. Disana kulihat sangat ramai, banyak terpampang hiasan bunga bertuliskan duka cita, dan beberapa bendera kuning yang terpasang.

Kuparkirkan mobil biruku dideretan mobil keluarga Trian yang kukenal. Akupun segera masuk dan menghampiri tante Irma yang sedang menangis. Tangisannya semakin deras saat melihatku. Ia memelukku. Tak tertahan aku pun ikut melelehkan air mata. Kulihat Trian terbaring dengan wajah pucat. Kini aku tak akan melihat senyuman yang sudah menjadi penyemangat, batinku. Kusentuh tangannya.

Dingin yang kurasakan. Kemarin sore masih hangat saat dia menggenggam tanganku. Begitu cepat ia meninggalkanku. Satu keinginan kita belum tercapai untuk menapakkan kaki di Paris. Aku kembali meneteskan air mata yang indah ini.

Karin menghampiriku dan memelukku. Ia membawaku kehadapan gadis kecil bernama Bilqis. Adik kecil kesayangan Trian. Bilqis menangis dalam pelukanku. “ka’ Sasi jangan kayak ka’ Trian ya. Ka’ Trian sekarang ninggalin aku. Ka’ Trian jahat ka” ucap gadis kecil itu. Aku tak bisa berucap apapun. Aku merasakan kehangatan Trian saat memeluk Bilqis.

Karin mengambil alih untuk mengemudikan mobilku. Kami akan segera memakamkan Trian. Bilqis kini masih dipangkuanku. Ia masih menangis. Ia menyesal karena semalam ia memaksa minta dibelikan ice cream pada kakaknya, karena Trian lelah sudah seharian mengerjakan tugas kantornya denganku ia menolak.

Tapi tangisan Bilqis memaksa Trian harus menuruti keinginan adik kecilnya. Namun sayang, dalam perjalanan ia mengantuk dan menabrak mobil dihadapannya. Pendarahan pada kepalanya membuatnya harus mengalami koma selama beberapa jam. Namun Tuhan sangat menyayangi Trian dan akhirnya mengambil Trian kembali dari dunia ini.

Kutaburkan bunga diatas tanah merah dan berdoa untuk Trian. Aku ikhlaskan kekasihku yang sangat kucintai. Karena Trian adalah cinta pertamaku dan berat rasanya kulangkahkan kaki ini meninggalkan tempat terakhir setiap orang didunia ini.

Tante Irma kembali jatuh pingsan. Om Rizki membawa istrinya segera kerumah sakit. Bilqis masih disampingku. Setelah aku dan sahabatku mengantar mami Trian kerumah sakit, Karin memintaku mengantarnya pulang. Setelah itu aku mengajak Bilqis pergi ketempat yang biasa aku kunjungi dengan Trian dan Bilqis.

Disana aku memesan ice cream coklat, vanilla dan strawberry. Kulihat kembali senyuman Bilqis. Hilir angin membuatku merasakan kehangatan kalau Trian sedang ada disampingku. Aku teringat kalau Trian tak pernah ingin membuat peri kecilnya menangis dan kini aku berusaha seperti Trian. Membahagiakan Bilqis dan membuatnya lupa dengan kejadian semalam yang menimpa kakak tercintanya. Cukup dua jam aku menemani Bilqis dan membuatnya kembali tersenyum. Bilqis mungkin kelelahan akhirnya ia tertidur dipangkuanku. Kugendong Bilqis sampai mobil dan kuantar dia pulang.

Kurebahkan tubuh ini diatas kasur yang hangat. Jam menunjukkan pukul delapan. Kutatap fhoto Trian. Aku kembali menangis. Aku masih tak percaya dengan kepergian Trian. Dan tante Irma juga keluarganya tadi sore sudah kembali ke Bandung. Kini rumah Trian mungkin sepi.

Tiada yang mengisi. Kupeluk boneka Teddy Bear berwarna coklat hadiah dari Trian dua bulan yang lalu dan mungkin ini hadiah terakhir darinya. Kututup mataku perlahan dan terlelap dari tidurku. Kurasakan hilir angin, Trian menjaga tidurku, batin hati ini.

Satu tahun kulewati. Aku masih juga belum memiliki kekasih pengganti Trian. Bilqis masih dekat denganku, begitupun keluarga Trian. Sudah seperti keluargaku sendiri. Aku teringat kata-kata tante Irma. Ia menyuruhku untuk melupakan Trian dan mencari pengganti Trian untuk menemani hidupku.

Aku hanya membalas dengan senyuman. Memang sampai saat ini aku belum menemukan laki-laki seperti Trian. Mungkin hanya Trian yang mengertikan aku, keinginanku, dan sifatku.

Handphoneku bergetar. Bertanda kalau ada sms masuk. Kulihat pesan singkat dari tante Irma. Beliau menyuruhku keBandung. Bilqis ingin aku menjemputnya dan mengisi liburannya bersamaku diJakarta. Dirumah mungilku, tapi surga untukku.

Memang aku bekerja diperusahaan om Rizki, papi Trian. Jadi aku tidak terlalu sibuk karena bagianku hanya sebagai kepala bagian desain bangunan. Sulit memang, tapi aku menyukai bagian itu. Karena cita-citaku ingin menjadi arsitek sejak aku SMP.

Sudah pukul empat sore. Aku segera merapikan tasku dan pulang. Sesampai dirumah aku segera berkemas dan pergi keBandung. Memenuhi keinginan Bilqis. Ditengah perjalanan aku singgah ditoko roti untuk membeli cup cakes kesukaan Bilqis. Perjalanan malam ini tidak terlalu macet.

Kulihat jam menunjukkan arah jam delapan. Mungkin lima belas menit lagi aku sampai, pikirku. “Bruuukk,” arghh mobilku ditabrak mobil dari belakang. Langsung aku parkirkan mobilku kekiri dan diikuti mobil yang menabrakku. Aku segera keluar mobil. Dan ingin aku memarahi langsung orang yang menabrakku itu.

Aku melihat mobil ku terluka parah. Kulihat laki-laki perawakan tinggi, gagah, rapi dan manis saat kulihat wajahnya keluar dari mobilnya. Dengan gagahnya aku menghampiri laki-laki itu.

“heyy anda. Apa anda mendapat SIM dengan cara yang tidak baik hah ? lihat mobilku, ia terluka parah. Anda harus bertanggung jawab!” ucapku.

“baik eemm baik. Aku akan bertanggung jawab. Aku minta maaf. Tadi aku sedikit mengantuk. Tapi jangan marah dulu. Aku siap tanggung jawab ko” jawab laki-laki itu.

Aku menghela nafas sedikit tenang. Untung saja laki-laki itu bertanggung jawab dengan mobil kesayanganku. Ia membuka kacamatanya. Aku terkejut. Jantungku berhenti berdetak saat ia memperkenalkan dirinya dengan senyuman yang kukenal. Aku sangat mengenali sosok ini.

“Tuhaaaaannnnn” aku menjerit tanpa suara. Hatiku bergejolak dan darahku tiba-tiba mengalir dengan cepat namun detak jantungku tak kunjung kembali.

“Triann ??” aku langsung memeluknya. Tapi hatiku berkata, Trian sudah tiada satu tahun yang lalu. Aku langsung melepaskan pelukanku. “emmm aku minta maaf. Aku pikir kamu Trian”.

“it’s ok. No problem. Jadi sekarang kita langsung bawa saja mobilmu kebengkel. Biar aku yang bawa mobilmu dan mobilku dibawa oleh Angga, ia temanku. Oh ia aku Daniel”.

“aa eeuu emmm aku Sasi. Ini kunci mobilku”.

Kamipun segera meluncur kesebuah bengkel cukup ternama. Disana aku langsung menghubungi tante Irma. Dan aku menunggu dicafe bersama Daniel dan Angga. Kami banyak berbincang. Dua jam telah berlalu. Aku sangat lelah dan mengantuk.

“kamu ngantuk Sas ? aku antar kamu pulang yaa, nanti besok kalau mobilmu sudah selesai aku antar mobilmu kerumahmu ?” kata Daniel.

“emm baiklah. Emm tak perlu diantar, biar aku yang mengambilnya sendiri. Cukup kamu membayarnya. Tapi besok harus sudah selesai, karena lusa aku harus kembali keJakarta Niel. Bagaimana ?” jawabku.

“ok, baik. Besok aku jamin akan selesai. Ayoo kita berangkat. Emm Angga kamu tunggu disini ya, nanti aku jemput lagi”.

“baiklah, jangan lama-lama yaa. Hati-hati dijalan. Byee Sasi”

Daniel akhirnya mengantarku pulang. Sesampai rumah aku memperkenalkan Daniel pada tante Irma dan om Rizki. Tapi sayang, tante Irma jatuh pingsan. Om Rizki langsung membawa tante Irma kesofa. Aku langsung mengobati tante Irma. Tak lama tante Irma tersadar, ia tiba-tiba menangis.

Kulihat Daniel kebingungan. Akhirnya aku ceritakan pada Daniel kalau ia sangat mirip dengan Trian. Hanya bedanya Trian lebih putih daripada Daniel. Kutunjukkam fhoto Trian pada Daniel. Ia terkejut dan heran. “Bagaimana bisa Trian sangat mirip denganku” ucapnya heran.

Tiga hari sudah aku menemani liburan Bilqis. Setiap hari aku dan Bilqis mengunjungi tempat-tempat yang sudah ingin dikunjungi Bilqis. Mulai dari kota tua, monas dan ancol. Dan hari ini aku dan Bilqis akan pergi ke Dufan (Dunia Fantasi). Kita memakai pakaian yang sama. Kaos biru dan jeans hitam yang bertuliskan I Love You So Much. Bilqis sangat senang. Wajahnya terpancar cahaya bahagia. Dan senyumnya mengingatkanku pada Trian. Tersentak aku dari lamunanku saat handphoneku berdering. Daniel menghubungiku.

“hallo ?”

“ia, dengan Sasi ?”

“ia betul, emm Daniel yaa ?”

“iia, ternyata kamu menyimpan nomor handphoneku yaa. Oiia aku didepan rumah kamu ni Sas ?”

Aku sangat terkejut mendengarnya. Aku langsung keluar sambil mematikan telephone dari Daniel.

“heeeyy, dari mana kamu tahu rumahku Niel ?” tanyaku.

“aku tahu dari tante Irma. Aku kangen kamu makanya aku kesini. Emm kamu mau pergi yaa Sas?”

“emm iia, hari ini aku akan kedufan dengan Bilqis. Kamu mau ikut ?”

“wow tentu saja. Ayoo kita berangkat”

Aku, Bilqis dan Daniel pun segera berangkat. Tiba disana kami langsung mencoba wahana-wahana mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa. Kami sangat menikmati hari ini. Daniel dengan mudahnya dapat menempati posisi Trian. Ia mampu membuat kami tertawa lepas.

Sama seperti yang Trian lakukan dulu padaku. Setelah kami merasa puas akhirnya kami pulang tapi sebelumnya kami singgah kerumah makan untuk mengisi perut yang keroncongan. Kami sangat menikmati hari ini.

Kedekatanku kini dengan Daniel sudah semakin jauh. Dengan perlahan aku dapat melepaskan Trian dari hati dan pikiranku. Aku masih tetap berhubungan baik dengan keluarga Bilqis. Dan aku tetap bekerja diperusahaan om Rizki.

Hari ini aku mendapatkan gelar sarjanaku dengan nilai yang baik. Wisudaku berjalan dengan lancar, ditemani orangtuaku, sahabatku Karin dan keluarga Trian menyempatkan hadir dihari kebanggaanku.

Teringat dulu aku dan Trian merencakan akan mengunjungi Paris setelah wisuda bersama tapi mimpi itu kini sudah terhapus setelah kepergian Trian dari hidupku untuk selamanya. Ingin rasanya Trian disampingku kini dan merasakan kebahagiaan tercapainya perjalanan panjang yang sudah ditempuh dengan jauh dan sangat jauh.

“hay Sas, maaf aku terlambat. Aku terjebak macet. Selamat yaah Sas atas gelar sarjanamu dengan predikat yang baik. Aku punya hadiah untukmu Sas” sungguh aku terkejut dengan kedatangan Daniel yang tiba-tiba.

“emmm aa euu ooia trimakasih niel. Apa ini ? dari mana kamu tahu aku lulus dengan predikat baik ?” tanyaku.

“aku tahu dari sahabatmu Karin. Buka saja hadiahnya”

Aku sangat terkejut saat membuka amplop putih bergaris biru dan bergambar cup cake dan ice cream. Amplop berisikan tiket perjalanan menuju Paris.

“Daniell, ini wooww. Aku harus bilang apa selain terimakasih banyak. Kamu kamu emmmmm”

Aku langsung memeluknya dengan erat. Ini hadiah terindah. Akan kukunjungi Paris mewakili kekasihku Trian. Mungkin ini takdirku. Mengunjungi Paris tanpa Trian disampingku. Tapi Daniel menggantikan posisi Trian dihatiku, dihidupku dan dinafasku. Laki-laki yang hampir sama persis dengan Trian. Mengertikan aku segalanya. Kehangatan yang sama dengan Trian. Tapi Daniel tetaplah Daniel dan Trian akan kusimpan dihati yang paling dalam.

Sejenak darahku berhenti mengalir, jantungku berhenti berdetak, urat nadiku terasa kaku, pikiranku kosong, aku terjatuh lemas dan penglihatanku mulai gelap. Aku jatuh pingsan saat mendengar berita kalau Trian kekasihku meninggal dua jam yang lalu akibat kecelakaan semalam yang membuatnya koma beberapa jam. Dengan perlahan aku membuka mataku dan melihat sekelilingku. Kudapati ada bunda dengan wajah…

Leave a Reply

Your email address will not be published.