Cerpen Horor – Dasi Kupu Kupu

Malam yang mendebarkan. sampai-sampai aku kesulitan untuk tidur. Tidak terasa setelah empat tahun lamanya aku bisa di wisuda besok. Ini adalah saat-saat yang paling aku tunggu-tunggu selama ini. usahaku, kerja kerasku akan terbanyar dengan gelar “S, Kom” yang akan mengikuti namaku. Raditya Anas, S.Kom keren kan?

Seperti baru beberapa menit mataku terpejam, kini sudah pagi saja! aku tidak yakin kemarin benar-benar tidur, mungkin karena terlalu bahagia dengan Wisudaku. Aku membuka lemari kemudian menimang-nimang setelan jasku, berwarna hitam legam dan rapi.

“Radit!” Mamaku mengetuk pintu kamarku.

“Iya, Ma?” aku membukakan-nya.

“Oh, Mama kira kamu masih tidur! Mama ke salon Tante Munir dulu yah! Soalnya Tante Munir ga bisa ke sini, ga ada yang nganterin! Nanti Mama berangkat pake Taksi saja!”

“Ok, deh Ma!” sahutku.

“Sip! Mama berangkat dulu ya!” Mama mencium keningku. Sesuatu yang paling aku sebalkan dari Mama. Tapi karena pagi ini aku sedang senang tidak ada niatku untuk protes karena tingkah Mama itu.

“Drrtttt…Drrrttt…..!” HPku yang di atas kasur bergetar. Ada pesan masuk.

‘Hey, Dit! gimana udah mandi belum lo? gue mas Haikal OTW rumah lo!’

Aku membalas pesan itu, ‘OK, sampai sini gue udah siap!’ setelah menekan tombol kirim aku langsung buru-buru ke kamar mandi.

“Hey, Bro! Ganteng bener lo, Bro!” Rendi memelukku ketika aku membukakan pintu.

“Iya dong! cepet bener kalian!” sahutku.

“Wuiss… kita kan pembalab, Bro! Wuss… wuss.. wusss! hahaha! Ya udah Langsung berangkat aja!”

“Oke deh!”

Aku memilih duduk di depan, di samping Haikal yang menyetir. sambil menyetir Haikal memandangi tampilanku.

“Lo, ga pake dasi kupu-kupu Bro?” serunya.

“Hah?” aku meraba bagian atas kemejaku, “Aduh gue lupa lagi!”

“Pake punya gue aja nih, Bro!” Rendy melepas dasinya dan menyodorkan ke aku.

“Lha trus lo pake apa? Udah, ah bro gue telepon Mama gue aja!”

Aku menelfon nomor Mama.

“Halo!” suara Mama.

“Halo, Ma! Radit lupa ga pake dasi kupu-kupu Ma! Mama bisa cariin ega?”

“Oh, ya udah nanti Mama cariin pas mau berangkat!”

“Beneran ya, Ma!”

“Iya, sayang!”

“Makasih, Ma!” aku menutup telepon.

“Gimana, Bro?”

“Iya nanti dibawain Mama gue!”

“Kalo nanti ga dapet, yaudah kita bertiga ga usah pake dasi kupu-kupu semua aja! The Trio RRH penguasa Kampus! Mana ada yang berani ngusir kita cuma gara-gara ga pake dasi kupu-kupu!” sahut Haikal.

“Iya, bener kata lo Bro!”

“Hahahahahha!” Kami bertiga tertawa.

“Awas, Bro!” teriak Rendy. Aku dan Haikal tersentak. di depan ternyata ada seorang anak gelandangan.

“Hah!” Haikal membanting setir.

“Ciiitttttttttttttttttt!” mobil berderit terpelanting ke kanan, sampai menabrak pembatas jalan. masih untung kami bisa berhenti, karena maju sedikit saja kami sudah akan masuk ke jurang.

Kami bertiga terengah-engah, kemudian saling berpandangan.

“Sial!” pisuh Haikal.

“Rasanya mau mati, Bro!” Rendi tampak masih syok. aku hanya terdiam ngeri sendiri memperhatikan sisi kananku sudah jurang.

“Coba lihat anak tadi!” seru Haikal, kemudian kami bertiga menoleh. terlihat anak kecil itu berlari. sepertinya dia tidak apa-apa. buktinya dia bisa berlari, mungkin karena takut akan kami marahi jadi anak kecil itu lari.Jalan lumayan sepi jadi tidak ada yang berkerumun menghampiri kami.

“Lanjut, aja deh, Bro! Sudah mau telat nih kita!” seru Rendi. Setelah manarik nafas panjang Haikal menyetater mobilnya lagi.

Sampai di gedung suasana sudah riuh. Kami yang jahil ikut mengganggu orang-orang yang sedang berfoto di depan gedung.

“Ayo masuk!” ajak Haikal.

“Kalian duluan saja deh! Aku nunggu Mama dulu, soalnya yang bawa undangannya kan aku!” seruku.

“Ya, udah kita duluan ya Bro!” Rendi menepuk bahuku.

Beberapa menit aku di depan gedung akhirnya ada taksi putih terparkir di tepi jalan. Mama keluar dengan setelah kebaya berwarna hijau tua. Dia melambai-lambaikan dasi kupu-kupuku.

“Lama sayang?” tanya Mama begitu cukup dekat denganku.

“Ega kok Ma! dapet dari mana dasinya?”

Mama memakaikan dasi kupu-kupu itu ke leherku, “pinjam Tante Munir! ternyata dia punya bekas punya anaknya waktu wisuda dulu, ya sudah Mama pinjem deh!”

“Bagus, deh!” sahutku.

Acara pun berlangsung satu persatu. Sayangnya aku tidak dapat menemukan Haikal dan Rendi di dalam. Pesanku juga tidak di balas. Terpaksa aku terus bersama Mama sampai acara selesai. Sampai terakhir acara ada acara foto bersama. Mama sangat antusias sekali berfoto dengan anaknya yang sudah jadi sarjana ini. terlihat dia sangat bangga kepadaku.

“Selamat ya, Sayang!” dengan mata berkaca Mama hendak mencium keningku.

Tapi aku menghindar karena malu, “Aduh, Radit malu Ma! Di tempat umum jangan cium Radit sembarangan ah!” protesku.

“Iya deh! Mama mengerti!” mama hanya mengusap rambutku.

Sampai rumah aku langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Bener-bener melelahkan hari ini. Tapi ada perasaan yang lega luar biasa di hatiku. Akhirnya aku jadi sarjana. Tapi itu juga berarti aku harus berpisah dengan Haikal dan Rendi dan memulai kehidupan baru.

Mencari pekerjaan yang cocok, syukur-syukur aku bisa melamar pekerjaan bersama Rendi dan Haikal, Semoga! aku memandangi foto persahabatan kami bertiga di atas meja. Foto itu kami ambil saat liburan bersama di Bali.

Ingin aku bersama mereka sekarang. untuk sekedar mengadakan ‘pesta perpisahan kecil’. Mama pasti tidak keberatan. Aku mengambil ponselku berniat menghubungi mereka. Tapi ternyata ponselku mati. Aku turun ke lantai bawah untuk memakai telfon rumah.

Saat aku hendak menekan nomor, ada laporan kalau aku mendapat pesan suara. Aku menekan satu tombol, untuk mendengarkan pesan itu.

“Halo, Radit ini Tante Munir! Tante ga tahu nomor HP kamu, Tante taunya nomor Telepon rumah kamu! Jadi maaf Tante ngasih taunya cuma bisa lewat sini. Mama kamu meninggal Radit, karena kecelakaan! Tadi pagi Mama-mu buru-buru sekali! Terus sampai lupa bawa dasi kupu-kupu yang mau dia pinjem.

Tante minta tolong tetangga yang lewat biar tante bisa nyusul Mamamu dan ngasih dasi kupu-kupu itu. Tapi ternyata di jalan tidak jauh dari rumah Tante taksi yang dinaiki Mamamu tertabrak truk sampai hancur! Sekarang jenazah mamamu sedang di RS. Harapan Bunda, Tante yang menungguinya di sini sama beberapa orang! Kamu cepat ke sini! Tutt.. tutt… tutt”

Pesan itu berakhir, dan kakiku langsung lemas. Mama sudah meninggal tadi pagi? Lalu siapa yang menyerahkan dasi kupu-kupuku dan menemani aku wisuda tadi pagi? Air mataku mulai berlinang.

“Ma… Mama!” panggilku berharap ada jawaban.

“Ma!!!” teriakku. aku naik ke lantai atas kemudian melihat foto Wisudaku di atas meja. Aku pandangi wajah ayu Mama yang berdiri di sampingku dengan tersenyum manis.

“Iya, Sayang ada apa?” seseorang membuka pintu kamarku.

Aku melihat wajah Mama yang pucat. Aku menelan ludah karena ketakutan.

“Ma, jangan mendekat Ma!” seruku dengan suara bergetar.

“Kenapa, Sayang?”

“Coba lihat wajah Mama di cermin!”

“Sayang, kamu ini kenapa sih?”

“Mama itu sudah meninggal!” teriakku.

“Kamu sudah tahu?” Mama memandangiku dengan wajah berkaca, “Maafkan mama, Sayang!”

Mama mendekatiku, aku hanya mampu mematung. Mama mengambil foto yang ada di tanganku kemudian menggoyangkannya kemudian menyerahkannya kembali kepadaku. Sekarang foto itu hanya berubah menjadi selembar kertas kosong. Mama membalik tubuhnya kemudian menjauh.

“Sekarang, pergilah ke RS. Kasih Bunda mama tunggu di sana!” serunya sebelum akhirnya menghilang.

Masih dengan tidak percaya dengan apa yang aku lihat aku pergi ke RS. Kasih Bunda. Dengan naik Bus yang lewat pertama kali akhirnya aku sampai di Rumah Sakit.

Aku melihat bayangan Mama di pintu masuk rumah sakit, aku mengikuti bayangan itu sampai di suatu ruang.

Di ruangan itu cukup ramai, bayak orang berjalan ke sana kemari. Tapi diantara orang-orang itu banyak juga pasien yang tiduran. Mama menunjuk satu pasien.

“Lihat itu!”

Aku melihat pasien tiduran yang di tunjuk Mama.

“Hah?” Aku tidak percaya dengan yang aku lihat. Rendi sudah terbujur kaku di depanku.

“Benarkah ini Ma?” aku semakin ketakutan saat Mama mengangguk.

aku melihat seseorang lain di sebelah Rendi, dan di sana ada Haikal. Aku semakin keakutan.

“Jadi kalian semua?”

“Iya kami semua sudah meninggal, Radit!” Seseorang memeluk bahuku dari belakang. Aku temukan wajah-wajah sahabatku berdiri di sampingku.

“Dan tidak hanya kami, tapi kamu juga Radit!” Haikal menunjuk ke salah satu mayat. Dan kakiku lemas saat melihat mayat itu memang aku.

“Ternyata mobil kita benar-benar masuk jurang pagi tadi! Kami sadar saat gambar kami tidak terlihat di foto. Tapi Mamamu melarang kami untuk memberitahumu sebelum kamu selesai wisuda. Karena Mamamu tahu kamu sangat menginginkannya!” jelas Haikal. Tanpa aku sadari air mataku mulai terjatuh.

Air mata bayangan karena aku memang makhluk yang tidak berwujud sekarang. Aku memandangi tanganku yang memang sudah menjadi transparan. Mama memelukku, begitu juga kedua sahabatku. Paling tidak aku tidak perlu merasa kehilangan siapa pun. Karena aku pun menghilang bersama mereka… orang-orang yang aku kasihi.

Malam yang mendebarkan. sampai-sampai aku kesulitan untuk tidur. Tidak terasa setelah empat tahun lamanya aku bisa di wisuda besok. Ini adalah saat-saat yang paling aku tunggu-tunggu selama ini. usahaku, kerja kerasku akan terbanyar dengan gelar “S, Kom” yang akan mengikuti namaku. Raditya Anas, S.Kom keren kan? Seperti baru beberapa menit mataku terpejam, kini sudah pagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published.